Layering model

LAYERING MODEL

Memecah fungsi-fungsi komunikasi dalam modul-modul yang terpisah yang disebut layer. OSI model adalah suatu layer komunikasi yang memproses masing-masing lapisan yang melakukan tugas yang spesifik.

KELEBIHAN

Modularity : Protocol lebih mudah dimanage dan dimaintain, Karena :

  • Masing-masing protocol mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri dalam hal pembagian tugas, sehingga komunikasi data menjadi lebih flexible dan mudah diterapkan antar jaringan dengan berbagai jenis computer yang ada.
  • Penggunaan layering ini membawa komunikasi jaringan ke dalam komponen yang lebih kecil, lebih sederhana, lebih mudah untuk dipahami sehingga lebih mudah untuk dimanage dan dikembangkan, juga memudahkan standarisasi pada komponen jaringan untuk mengijinkan pengembangan dan dukungan multiple vendor
  • Salah satu alasan penggunaan OSI adalah agar multiple applications dapat men-share transport connection yang sama. Fungsi dari transport adalah memenuhi segment demi segment artinya data segment yang berbeda dari aplikasi yang berbeda akan dikirimkan ke tujuan yang sama/sebaliknya. Sebuah aplikasi sangat bergantung pada transmission media yang dipakai, namun dengan adanya intermediate layer maka aplikasi yang telah ada dapat ditambah dengan aplikasi yang lain, hal ini membuat protokol lebih mudah dimaintain.

Abstract Functionality : layer yang dibawahnya mudah diubah tanpa mempengaruhi layer yang di atas

  • Masing-masing layer melaksanakan fungsinya secara independent dalam implementasinya namun tetap dalam satu tujuan yang sama.
  • Mengijinkan tipe yang berbeda pada jaringan hardware dan software untuk berkomunikasi dengan yang lain. Protokol yang satu tidak perlu mengetahui cara kerja protokol yang lain secara fisik, selama protokol tersebut masih dapat berkomunikasi dengan baik.
  • Karena perubahan lower layers tidak mempengaruhi upper layers, maka mereka dapat berkembang dengan cepat.

Reuse : upper layer dapat menggunakan fungsi-fungsi yang telah didefinisikan oleh lower layer

  • Upper layers dapat menggunakan kembali data yang disediakan oleh lower layers, tanpa mengetahui asal usul data dari layer sebelumnya karena setiap layer biasanya menyembunyikan lower layers dari upper layers-nya. Misalnya sebuah protocol menerima data dari protocol yang lain pada lower layer-nya, jika data tersebut benar maka protocol yang bersangkutan akan membuang header-nya (tambahan informasi yang telah didapat sebelumnya) dan meneruskan data tersebut ke protocol pada upper layers selanjutnya. Sehingga walaupun layer melaksanakan fungsi kerjanya masing-masing namun fungsi yang telah didefinisikan oleh lower layers dapat digunakan kembali oleh upper layers

KEKURANGAN

Information hiding – Inefficient implementation

Layering dapat menambah kompleksitas proses, karena masing-masing layer harus mengerjakan fungsinya masing-masing dan memiliki kemampuan proses yang berlainan. Information hiding ini dapat diilistrasikan seperti proses pengiriman sebuah surat yang didalamnya terdapat satu/lebih kertas(data), agar surat tersebut sampai ke amalat tujuan maka harus disertai alamat pengirim, alamat tujuan dan juga perangko(sebagai labels). Kemudian surat dikirim ke kantor pos, di sana surat dikelompokkan dan dibungkus sesuai nama kota tujuan. Proses pengepakan ini sama halnya dengan layering dari lower layers ke upper layers. Tapi setelah sampai ke alamat tujuan, pembungkus tersebut satu persatu dibuang dan inilah kenapa information hiding menjadi kurang efisien untuk dilakukan.

~ oleh Dian di/pada Maret 6, 2008.

Tinggalkan Balasan